Wasit yang memimpin pertandingan final Piala Bhayangkara antara Arema vs Persib, Minggu (3/4), Nuzur Fadillah, menjadi topik hangat yang diperbincangkan. Sebabnya adalah ia dianggap sebagai biang masalah atas kekalahan 2-0 Persib atas Arema di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Keputusannya banyak dianggap kontroversi terlebih atas kartu merah full back Persib Rudolof Yanto Basna.
Back asing Persib Vladimir Vujovic sampai-sampai mengejar wasit pasca pertandingan kedalam ruangan ganti atas kekesalannya diusili Nuzur. Selain pelatih Persib, Dejan Antonic yang sangat murka, manajer Persib Umuh Muchtar pun mengakui sangat geram dengan kepemimpinan sang pengadil lapangan Minggu malam itu.
Menurut Umuh kartu kuning kedua Basna, dan menyusul kartu merah, tidak perlu diberikan. Niatan Basna hanya membuang botol ke luar lapangan. “Tadi sangat kelihatan sekali wasit sangat tidak benar. Dia (Basna) cuman membuang botol, kenapa harus di kartu merah? Itu tidak perlu itu,” kata Umuh ditemui usai laga.
Ia menegaskan wasit Nuzur Fadillah adalah wasit paling buruk dalam gelaran final yang terjadi. Umuh menilai tidak semestinya ia ditugaskan dan seharusnya diganti. “Sudah jelas wasit paling butut, sudah diperingatkan tadi dan kenapa enggak diganti?,” tanyanya.
Laga sempat terhenti beberapa menit tepatnya menit ke-70 karena Persib melakukan mogok bermain. Namun hingga akhirnya Persib melanjutkan pertandingan karena menghormati Presiden Jokowidodo dan Kapolri Bhayangkara yang hadir menyaksikan.
“Kalau tidak hormat terus terang saya dikasih kartu merah mau berhenti cuman tenang ajah hormat ada kapolri kalau bukan kapolri sudah berhenti,” kata Umuh.
Lebih lanjut, Gelora Trisula Semesta (GTS) sebagai operator Turnamen Bhayangkara sekaligus pengelola turnamen jangka panjang, Indonesia Soccer Championship (ISC) harus benar-benar dalam hal menyeleksi wasit. Manajer 67 tahun itu tak ingin ISC ternodai dengan wasit-wasit usil yang menodai pertandingan. “Nanti di ISC wasit ini harus benar-benar di saring lagi, jangan asal pilih,” tukasnya.